Kategori
|
:
|
Rendang
|
:
|
Kering
atau Basah
|
|
Bahan
Utama
|
:
|
Paru
Sapi
|
Bahan
Tambahan
|
:
|
Tidak
ada
|
Kemasan
Berat
|
:
|
|
a. 250
gram
|
Rp. 85.000
|
|
b. 500
gram
|
Rp. 150.000
|
|
c. 1.000
gram
|
Rp. 290.000
|
|
Harga
|
Di
luar Ongkir
|
|
Pilihan
Rasa
|
:
|
Tidak
Pedas
|
Pedas
|
Rendang paru namanya, makanan ini
adalah salah satu sajian yang wajib ada di rumah-rumah makan khas masakan
minang.
Ranah minang memang
memiliki banyak olahan masakan dengan cara direndang. Rendang yang paling
populer adalah rendang daging. Makanan ini telah dinobatkan menjadi makanan
paling enak sedunia. Selain cita rasanya yang benar-benar menggoyang lidah,
rendang juga memiliki daya tahan yang super lama.
Masyarakat Indonesia dulu
pasti membawa rendang sebagai bekal perjalanan ketika berhaji/ umrah ke Mekkah,
Saudi Arabia. Dulu, orang-orang berhaji bisa memakan waktu 2 hingga 6 bulan
lamanya. Rendang sendiri bisa tahan hingga lebih dari satu bulan lamanya tanpa
rusak.
Manfaat Jeroan Sapi Bagi Tubuh Manusia
Bagi sebagian orang, makan soto babat,
sup lidah sapi, gulai otak, paru goreng, atau sate hati merupakan kenikmatan
tersendiri. Namun, bagi sebagian orang lain, jeroan sering dianggap sebagai
biang kerok berbagai penyakit, seperti jantung koroner, stroke, atau asam urat.
Itulah alasannya mengapa jeroan ini sering dihindari dan ditabukan.
Benarkah jeroan harus dihindari ?
Jeroan adalah bagian-bagian organ
dalam tubuh hewan yang sudah dijagal. Biasanya yang disebut jeroan adalah semua
bagian, kecuali daging utama, otot, dan tulang. Tergantung budaya setempat,
jeroan dapat dianggap sebagai sampah atau sebaliknya, justru sebagai bahan
pangan yang mahal.
Di beberapa negara seperti Amerika,
jeroan tidak biasa dikonsumsi manusia.Jeroan umumnya dibuang atau untuk pakan
ternak karena dianggap membahayakan kesehatan. Namun, di beberapa negara Eropa,
seperti Italia, Spanyol, Skotlandia, Yunani, Turki, dan Rumania, jeroan biasa
diolah sebagai salah satu masakan tradisional yang menggugah selera. Di
Inggris, jeroan biasa dimasak sebagai steik.
Di Jepang, jeroan ayam biasanya diolah
sebagai campuran yakitori, yaitu sate berbahan dasar daging ayam diselang
seling kulit, hati, jantung, atau ampela, yang dihidangkan bersama sake.
Di Brasil, ada menu bernama
churrasco,berupa jantung ayam panggang dan feijoada, yaitu rebusan kacang merah
atau kacang hitam dicampur daging dan jeroan sapi. Di Lebanon, jeroan sangat
populer dibuat nikhaat, yakni otak kambing berbumbu sebagai isi roti.
Hati-hati
Jeroan sendiri terdiri dari berbagai
bagian yaitu hati, jantung, ginjal, lidah, usus, dan otak. Hati merupakan organ
utama tubuh bagian dalam hewan. Senyawa beracunlebih banyak ditemui pada hati,
dibandingkan dengan bagian tubuh lain. Sebab, hati merupakan tempat untuk
menetralkan racun di dalam sistem pencernaan tubuh.
Bila ingin mengonsumsi hati, sebaiknya
dicuci berulang kali hingga bersih dan direbus sampai matang, baru diolah. Ini
penting untuk mengurangi kemungkinan bahaya.
Hati ayam dan hati sapi berwarna merah agak kecokelatan, lembut, dan mudah hancur, tetapi bila dipanaskan akan mengeras. Jantung memiliki serabut, berukuran relatif kecil, lembut, dan berwarna merah kecokelatan.
Hati ayam dan hati sapi berwarna merah agak kecokelatan, lembut, dan mudah hancur, tetapi bila dipanaskan akan mengeras. Jantung memiliki serabut, berukuran relatif kecil, lembut, dan berwarna merah kecokelatan.
Ginjal berwarna merah tua. Ginjal
kambing memiliki satu cuping, sedangkan ginjal sapi dan lembu memiliki beberapa
cuping.Ginjal hewan yang masih muda sangat lembut dan memiliki aroma khas,
sedangkan ginjal hewan yang sudah tua lebih keras, terasa pahit, dan berbau
amis menyengat.
Babat merupakan bagian perut hewan
ruminansia, seperti sapi.Babat segar berwarna putih kelabu atau krem kehijauan.
Di pasaran ada babat berwarna putih bersih. Warna tersebut didapat melalui
proses bleaching (pemutihan) menggunakan bahan kimia sintetis. Bila tidak
hati-hati bisa menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan.
Lidah berwarna merah jambu atau
abu-abu.Umumnya diselimuti membran muskus yang tebal dan bertekstur kasar.
Sebelum diolah, membran lebih dulu dihilangkan dengan cara mengulitinya. Lidah
sapi jauh lebih besar dan tebal, beratnya 2-3 kg.
Usus merupakan organ pencernaan,
bermula dari ujung lambung hingga anus. Usus terdiri dari dua bagian, yaitu
usus kecil dan usus besar. Usus sapi berwarna merah kecokelatan, usus ayam
kuning kecokelatan. Usus mudah rusak dan terkontaminasi penyakit lainnya. Bila
tak segera dibersihkan dari sisa kotoran lebih dari 4 jam setelah disembelih,
usus sudah tak layak dikonsumsi.
Otak merupakan jenis jeroan paling
digemari. Teksturnya lembut berwarna putih keabu-abuan. Umumnya otak sapi dan
kambing yang banyak diolah, menjadi gulai.
Cegah anemia
Secara umum, jeroan sangat banyak
mengandung zat gizi, di antaranya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan
mineral. Vitamin utama yang banyak terdapat pada jeroan adalah B kompleks,
terutama vitamin B12 dan asam folat.
Selain itu, hati juga kaya akan
vitamin A. Mineral pada jeroan di antaranya zat besi, kalium, magnesium,
fosfor, dan seng.
Protein sangat dibutuhkan tubuh untuk
pertumbuhan ataupun penggantian sel tubuh yang sudah rusak. Anggapan bahwa protein
hanya dibutuhkan anak-anak tidaklah benar, sebab orang dewasa walau berhenti
tumbuh memerlukan protein untuk pergantian sel.
Pelihara saraf
Jeroan juga sangat baik untuk memelihara sel-sel saraf agar berfungsi optimal. Kandungan vitamin B12 pada jeroan dapat mengurangi potensi gangguan sistem kerja sel-sel saraf, sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya gangguan memori pada otak.
Jeroan juga sangat baik untuk mencegah
anemia.Anemia diakibatkan kekurangan asam folat dan zat besi. Asam folat merupakan
bahan esensial untuk sintesis DNA dan RNA yang penting untuk metabolisme inti
sel, termasuk sel darah merah. Sementara itu, zat besi merupakan unsur penting
dalam pembentukan sel darah merah.
Bila terjadi gangguan dalam
pembentukan sel darah mesh, kadar hemoglobin (Hb) dalam darah tidak normal.
Kondisi ini membuat fungsi Hb sebagai pembawa oksigen ke seluruh tubuh
terganggu. Akibatnya tubuh lemah, letih, lesu, dan muka pucat. Dalam kondisi
semacam ini, mengonsumsi hati dan ginjal sangat dianjurkan mengingat kandungan
asam folat dan zat besinya paling baik.
Kandungan seng dan vitamin A pada hati
sangat baik untuk memelihara kesehatan jaringan epitel, termasuk endotelium
pembuluh darah. Kedua zat gizi tersebut dapat membantu mencegah kerusakan
pembuluh darah. Riset membuktikan vitamin A dan seng secara signifikan membantu
meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Imbangi dengan Sayur dan Buah
Meskipun jeroan baik, kandungan
kolesterolnya sangat tinggi. Hal ini tentu sangat berbahaya, apalagi bagi
mereka yang sudah berusia lanjut dan cenderung obesitas. Salah satu strategi menyiasatinya
adalah mengonsumsi jeroan bersama sayuran atau buah-buahan. Serat pangan pada
sayuran dan buah sudah terbukti secara ilmiah dapat menurunkan kolesterol dalam
darah.
Jeroan tidak aman dikonsumsi oleh
penderita asam urat karena kandungan purinnya sangat tinggi. Salah satu
penyebab penyakit asam urat adalah makanan tinggi purin.
Tubuh telah menyediakan 85 persen
senyawa purin untuk kebutuhan tubuh harian, sehingga tambahan dari makanan
hanya 15 persen. Masalahnya, seringkali konsumsi purin berlebihan, sehingga
ginjal tak dapat mengatur metabolismenya dengan baik.
Makanan sehari-hari kita umumnya
mengandung 600-1.000 mg purin. Bila menderita asam urat akut, disarankan
kandungan purin dalam menu sehari-hari 100-150 mg.
Kandungan purin pada jeroan dapat
dilihat pada Tabel 2. Bila kadar asam urat penderita lebih dari ukuran normal
(di atas 7 mg/dl), dianjurkan menghindari jeroan. Bahkan, jika melebihi 10
mg/dl dibarengi dengan pembengkakan sendi, sebaiknya tidak mengonsumsi makanan
yang mengandung purin sama sekali, termasuk daging-dagingan.
Mengingat jeroan bermanfaat sekaligus
berbahaya, sebaiknya jeroan jangan digandrungi, tetapi juga jangan dihindari,
terutama bagi yang tidak menderita asam urat atau pun kolesterol tinggi.
Konsumsilah jeroan secara bijak.
Segera dimasak
Selain itu, pilihlah yang masih segar,
sebab jeroan mudah sekali rusak. Jeroan segar berwarna yang sama seperti ketika
pertama kali dipotong, lembab dengan permukaan tidak berlumpur, beraroma segar,
dan tidak terendam air. Hindari jeroan dengan ciri-ciri seperti tercantum pada
Tabel 3 karena sudah mengalami kerusakan. Ciri-ciri jeroan yang telah rusak
Jeroan yang sudah dibeli hendaknya
segera diolah. Gunakan air perasan jeruk nipis atau lemon untuk menghilangkan
bau amis. Jika tidak segera diolah, masukkan jeroan ke dalam lemari pendingin,
tetapi jangan lebih dari satu atau dua hari.
Penyimpanan jeroan harus dilakukan
secara terpisah dari bahan pangan lainnya. Sebaiknya jeroan dibungkus dengan
aluminium foil dan disimpan di dalam lemari pembeku (freezer) agar lebih tahan
lama.
Sebaiknya jeroan tidak disajikan
dengan cara disantan, digoreng, atau dipanggang karena kandungan lemaknya sudah
sangat tinggi. Untuk mengurangi kandungan purin, lemak, dan kolesterol, proses
perebusan dapat menjadi pilihan. Namun, air rebusan jangan ikut dikonsumsi.
Jeroan, terutama hati, juga baik
digunakan sebagai campuran pada makanan balita karena besar manfaatnya dalam
membantu proses pertumbuhan.
Diperlukan Ibu Hamil
Jeroan, terutama hati sapi, kaya akan
kolin. Di dalam 3,5 oz hati sapi terkandung kolin sebanyak 532 mg, lebih banyak
dari satu butir telur, yang hanya 282 mg.
Kolin berperan penting di dalam tubuh, khususnya untuk perkembangan fungsi otak. Hal ini berhubungan dengan fungsi kolin sebagai komponen asetilkolin yang berfungsi sebagai pengantar sinyal saraf.
Asupan kolin yang cukup akan membantu
kerja sinyal saraf pada otak, sehingga dapat memperkuat daya ingat anak-anak
dan bisa menghindari kepikunan di usia lanjut. Selain itu, asupan kolin yang
cukup saat kehamilan mengurangi risiko kematian sel pada janin, yang berarti
mengurangi risiko bayi cacat dan keguguran.
Penelitian Meck dan William (1999)
merekomendasikan pemberian makanan kaya kolin dilakukan sejak umur janin 20-25
minggu. Sementara asupan kolin pada saat menyusui dilakukan untuk mendukung
perkembanagan otak bayi secara optimal.
Penelitian Ladd dkk (1993)
menganjurkan agar kolin juga dikonsumsi oleh mereka yang sedang dalam tahap
pertumbuhan maupun kaum lanjut usia. Mereka yang berada pada usia produktif
juga wajib mengonsumsi kolin untuk mempertahankan fungsi otak agar tetap bugar.
Kolin juga dapat memperbaiki memori otak yang rusak akibat proses penuaan.